Riset & Berita

  • Follow Us :

Tuntunan Syariah dalam Manajemen Keuangan Pribadi dan Investasi

Sebagai manusia, terutama sebagai seorang muslim, mengelola keuangan pribadi dengan baik merupakan hal yang wajib dilakukan dan tidak dapat dipandang sebelah mata. Pengelolaan keuangan yang buruk seperti sikap konsumtif yang berlebihan dapat menjadi titik awal akan potensi dari rentetan kehancuran finansial yang mungkin dapat terjadi dimasa yang akan datang.
Allah S.W.T sangat mencintai umatnya yang dapat dengan baik mengelola harta atau keuangan pribadinya, dimana seseorang tersebut tidaklah boros dalam melakukan pengeluaran, tetap berusaha untuk berhemat setiap saat dan mampu untuk selalu menyisihkan kelebihan harta yang dimilki untuk kebutuhan dimasa depan. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad S.A.W, “Allah akan memberikan rahmat kepada seseorang yang berusaha dari yang baik, membelanjakan dengan pertengahan dan dapat menyisihkan kelebihan untuk menjaga pada hari ia miskin dan membutuhkannya.” (HR. Ahmad dan Muslim).

Selain sabda Rasulullah pada hadits tersebut, dalam Al-Qur’an Surat Yusuf ayat 43 hingga 49 juga telah jelas diterangkan mengenai pentingnya pengelolaan harta yang dimiliki, dimana pada ayat-ayat tersebut diceritakan bagaimana seorang Nabi Yusuf menafsirkan mimpi dari seorang raja dan kemudian menganjurkan untuk berhemat dan menyisihkan beberapa dari harta yang dimiliki pada saat itu untuk kemudian digunakan pada saat membutuhkan.

Dengan demikian, berdasarkan tuntunan syariah tersebut, kita sebagai seorang muslim yang taat sudah seharusnya menerapkan manajemen keuangan yang benar. Disamping itu pula, para umat muslim juga dianjurkan untuk menyisihkan kelebihan harta yang dimilki untuk menjaga pada hari ia miskin dan membutuhkannya. Disinilah bagaimana umat islam sangat dituntut untuk lihai mengatur keuangannya dan berinvestasi.

Seseorang juga diwajibkan untuk melakukan investasi guna mengamankan masa depannya dimana investasi tersebut dapat dinikmati pada masa yang akan datang atau pada saat membutuhkannya sesuai dengan tujuan investasinya masing-masing seperti untuk kebutuhan menikah, membeli rumah, merintis bisnis pribadi ataupun untuk kebutuhan pensiun kelak.

Terkait investasi, seorang muslim harus benar-benar mengerti perihal instrumen investasi yang akan dipilih. Berbagai macam produk investasi baik riil maupun keuangan yang tersedia tidak semuanya dapat dijadikan sebagai instrumen investasi yang tepat dan sesuai dengan tuntunan syariah. Oleh karena itu, wajib hukumnya untuk mengetahui instrumen investasi apa saja yang memenuhi prinsip-prinsip syariah.

Bagi investor yang memiliki profil resiko konservatif, disarankan untuk memiliki aset investasi dalam bentuk surat hutang seperti sukuk negara dimana aset investasi ini mampu memberikan imbal hasil yang moderat dengan tingkat resiko yang minimal. Prinsip dan proses investasi sukuk sendiri telah sesuai dengan prinsip-prinsip syariah dimana tidak terdapat unsur riba didalamnya dan umumya menggunakan akad Ijarah. Sedangkan bagi investor yang memiliki profil resiko moderat hingga tinggi dapat membeli instrumen investasi seperti saham dimana return yang ditawarkan jauh lebih besar dibandingkan sukuk, dan sudah tentu sebagai seorang muslim yang baik, saham-saham tersebut haruslah termasuk kedalam saham-saham syariah.

Saham syariah merupakan saham perusahaan terbuka yang jenis usaha, produk barang atau jasa yang diberikan dan akad serta cara pengelolaan perusahaannya tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah (DSN MUI, 2003). Terdapat berbagai macam jenis kegiatan usaha perusahaan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah seperti perjudian, lembaga keuangan konvensional, produsen atau pedagang makanan dan minuman haram, produsen dan/atau distributor serta penyedia barang atau jasa yang merusak moral dan bersifat mudarat, serta perusahaan yang tingkat hutang perusahaan kepada lembaga keuangan ribawi lebih dominan dari modalnya (DSN MUI, 2003). Sebagai muslim yang taat, wajib hukumnya untuk mencermati perusahaan apa yang ingin ia miliki dan berinvestasi didalamnya.

Pada intinya, sebagai muslim yang baik yang taat akan agama dan berpegang teguh pada prinsip-prinsip syariah, wajib hukumnya bagi seseorang tersebut untuk mengelola keuangan pribadinya dengan baik dan juga tidak lupa untuk berinvestasi. Dana darurat sangat diperlukan untuk meminimalisir resiko guncangan finansial yang tidak diinginkan dan dapat terjadi sewaktu-waktu. Investasi pula sangatlah penting untuk pemenuhan berbagai kebutuhan dimasa depan. Sebagai muslim yang taat, prinsip-prinsip syariah harus selalu ditegakkan, baik ketika berinvestasi dalam bentuk surat hutang ataupun saham.

Ditulis oleh : Nugroho Rahmat, Pemenang Ketiga MOST Article Competition - Investasi Syariah